Selasa, 20 Januari 2009

Mother is the best super hero in the world

Mumpung Ibu Masih ada, coba saat BELIAU tidur saat matanya terpejam kamu tatap wajahnya itu 5 menit saja, kamu akan tau bagaimana rasanya nanti bila wajah itu sudah tak ada di situ…

Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan untuknya…

LAKUKAN SEKARANG teman2ku sayang, bukan besok atau 5 menit lg karena mungkin sekedip matamu dia akan pergi tak kembali…
Klo sudah terlanjur ga ada, yaaahhh jangan lupa doa ma TUHAN. Segala macam doa deh. Miss U Mum…
Luv U all

Ini adalah mengenai nilai kasih Ibu dari seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan sekeping kertas yang bertuliskan sesuatu, si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh si anak dan membacanya.

Ongkos upah membantu ibu:
1) Membantu pergi ke warung: Rp20.000
2) Menjaga adik: Rp20.000
3) Membuang sampah: Rp5.000
4) Membereskan tempat tidur: Rp10.000
5) Menyiram bunga: Rp15.000
6) Menyapu halaman: Rp15.000
Jumlah: Rp85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama:
1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan: GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu: GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu: GRATIS
4) Ongkos khawatir krn memikirkan keadaanmu: GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu: GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku: GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, “Saya Sayang Ibu”. Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu di depan surat yang ditulisnya: “Telah Dibayar”
LUv Mom I miss u forever
Mother is the best super hero in the world.

Sabtu, 17 Januari 2009

Membut Website


Semalem si amoel lagi pengen bisa bikin website, setelah bolak balik cari tutorial ehhh ketemu salah satu web yang isinya cara membuat web gratisann, wah langsung gw coba tuh..pertama si bingung tapi lama kelamaan asik juga biarpun biji mata dah mau keluar...wkwkwk
Setelah semalaman utak atik bikin web taraaaaaaa...jadi deh websitenya mau liat klik disini, tapi isi web nya tentang profil tmpt gw cari uang, yah lumayan lucu lah web nya..emg Boneka lucu..
upsss tunggu dulu yang bikin gw bingung sampe sekarang tu web pngn ada di search engine (om google)..wah ada PR lagi nehh.. tenang aja gw kan orang sangat gigih (heeee emg Pahlawan Kemerdekaan GIGIH) jadi tu PR bisa terselesaikan dengan cepat amiiiiiiiiiiiin...

Rabu, 14 Januari 2009

Foto dan cerita pangalengan tempo dulu

Wegenaanleg in Pengalengan, West-Java (voor/before 1943)

Kegiatan membuka jalan baru di Pangalengan, sepintas mirip di daerah cibiana, ciruntah atau di sekitar perkebunan Malabar. Menurut penuturan Kakek, pembukaaan jalan Banjaran Pangalengan tidak lepas dari ide K.A.R Bosscha untuk membuka access mengangkut komoditi hasil perkebunan di Bandung Selatan. Tapi tetap saja menggunakan tenaga penduduk pribumi, entah itu dengan cara kerja paksa, atau di beri upah sangat minim. Tapi pekerjaan mereka tidak sia-sia, buktinya sampai sekarang jalan tersebut sangat bermanfaat.

Gezicht op de Goenoeng Tiloe, Malabar gebergte, West-Java (1917)

Gezith artinya panorama, gebergte berarti pegunungan, orang Pangalengan tentunya tahu, ya.. Gunung Tilu. Dalam photo tampak sisi sebelah utara dari gunung tilu, mungkin photo ini di snapshot di daerah Cikalong. Masih kelihatan alami, tidak seperti sekarang yang sudah mulai gundul, sejak ada Kredit Usaha Tani (KUT) orang-orang dengan bebas membuka lahan seenaknya untuk menanam modal dari kredit itu. Karena kurang profesioanl, modalnya habis dan hasilnya nol besar.

Disebut Gunung Tilu karena terdapat tiga puncak gunung, paling tinggi yang tengah, bila diibaratkan yang paling tinggi dan besar adalah induknya :) .

Hollands vee in de weide bij Pengalengan, Preanger (1936)

Baru tahu bahwa kata sapi itu berasal dari Bahasa Belanda, Vee :) mengapa ?, karena dalam bahasa melayu tidak ada kata sapi, yang ada hanya kerbau dan lembu. Weide kurang lebih artinya padang rumput. Tampak seorang penggembala bule totok wong londo, dengan latar belakang Gunung Tilu. Sapi perah merupakan salah satu sektor perekonomian di Pangalengan.

School voor kinderen van arbeiders van Theeonderneming Malabar, West-Java

Sekolah rakyat pertama yang ada di Pangalengan, sekarang namanya SD Malabar 2, sekolah tempat ibu saya menuntut ilmu. Sebuah bangunan panggung sederhana terbuat dari kayu dengan dinding bilik bambu, sampai sekarang masih terpelihara dengan baik, letaknya tidak jauh dari makam K.A.R Bosscha. Tampak anak-anak membawa sabak, sebuah lempengan batu atau kayu yang ditulisi kapur, “enak kalau anak zaman sekarang, sudah ada buku tulis” tutur ibu.

Schoolbus met leerlingen van de Plantersschoolvereniging “Pengalengan” te Bandoeng (1900-1940)

Bisa dipastikan mobilnya jenis oplet, mirip oplet si doel (kakek pernah memiliki mobil seperti ini, sayang terbakar). Plantersschoolvereniging (Sekolah Yayasan perkebunan), menurut situs scchoolbank.nl, sekolah ini letaknya di Pintu, sebuah kawasan sebelum memasuki Perkebunan Malabar

Situ Cileunca

SITU Cileunca Dan Cerita MISTIS
SITU Cileunca menjanjikan panorama alam nan indah. Tak heran, dulu, orang-orang sempat menjuluki tempat tersebut sebagai Swiss-nya Indonesia. Namun, di balik keindahannya, kawasan ini menyimpan cerita-cerita mistis, yang oleh sebagian warga sekitar masih dipercayai.

SITU Cileunca berada 45 km sebelah selatan Kota Bandung, tak jauh dari Kota Kecamatan Pangalengan. Genangan air seluas 180 hektare itu diapit dua desa, yakni Warnasari dan Pulosari. ”Sebenarnya, Situ Cileunca itu ada dua buah. Cileunca Satu memiliki luas 210 hektare dan ini, Situ Cileunca Dua, memiliki luas 180 hektare,” ungkap Asep Jabog (50), salah seorang tokoh masyarakat setempat, kepada ”PR”, belum lama ini.

Ia berkisah, dulu, Situ Cileunca merupakan kawasan milik pribadi seorang Belanda. ”Namanya Kuhlan,” katanya.

Pembangunan situ tersebut dilaksanakan selama 7 tahun (1919-1926) dengan cara membendung aliran kali Cileunca. ”Uniknya, berdasarkan penuturan orang-orang tua dulu, situ ini dibangun oleh banyak orang. Tak menggunakan cangkul, tapi menggunakan halu,”ujarnya.

Pembangunan situ tersebut, tuturnya, dikomandani dua orang pintar, yakni Juragan Arya dan Mahesti. Maka, tak heran, makam Mahesti dijadikan tempat keramat oleh masyarakat setempat. ”Soal yang suka berkunjung, tak cuma orang sini, tapi banyak juga orang dari luaran,” kata Ade Rowi (35), salah seorang tukang perahu di sana.

Ada banyak kisah mistis di Situ Cileunca. Satu yang sering didengar orang adalah ”pertunjukan wayang”. Asep Jabog membenarkan hal tersebut. ”Tapi, sekarang, sudah jarang terdengar. Da kalakumaha oge, sanget mah kumaha sungut, ceuk basa Sundana mah. Dulu, berdasarkan cerita, ada sekelompok penabuh wayang (dalang berikut para sinden dan nayaga,- red.) yang tenggelam di Situ Cileunca. Sejak itu, masyarakat sering mendengar raramean. Padahal, tidak ada apa-apa,” kata Asep.

Asep juga mengatakan, sebenarnya, ada dua siluman yang terkenal di Situ Cileunca. Lulun Samak dan Dongkol. Lulun Samak adalah “sesuatu” yang mematikan dengan cara menggulung mangsa. Sementara, Dongkol adalah “sesuatu” yang berwujud kepala kerbau.

”Tapi, sekarang, keduanya sudah tidak ada lagi di sini. Dengar-dengar mah, ada di Situ Bagendit. Soalnya, Situ Cileunca ini ’berhubungan’ dengan dua situ lainnya, yakni Bagendit dan Patengan. Coba saja lihat, kalau Cileunca surut, yang lainnya juga surut,” ujar Asep Jabog.

Hingga kini, kisah mistis di Situ Cileunca tetap saja berlangsung. Tentu, dalam taraf yang tidak membahayakan. ”Ya, jangan terkejut ketika berkemah di sini ada yang tiba-tiba nimbrung,” ujar Asep.

Satu hal yang dia khawatirkan adalah situasi objek wisata yang memanas. Dalam penilaiannya, penempatan kompleks peristirahatan di Situ Cileunca tidaklah tepat. “Jigana, baheula, keur nyieunna teu make bismillah-bismillah acan. Jadi, menta tumbal. Saya khawatir, tumbal yang diminta itu terjadi dalam waktu dekat ini. Soalnya, situasi di tempat tersebut, akhir-akhir ini, memanas,” ujar Asep Jabog.

“Ayam kampung”

Di siang hari, apalagi ketika langit cerah, Situ Cileunca benar-benar memanjakan pengunjung dengan keindahan alamnya. Dari atas perahu yang melaju perlahan di riak tenang air danau, pengunjung dapat memutar pandangan, menatap hamparan hijau kebun teh. Nun jauh di sana, tiga gunung berdiri dengan jemawa. Gunung Malabar, Wayang, dan Gunung Windu.

“Malam hari, di sini juga ramai. Banyak ayamnya. Bukan ayam biasa. Ditanggung nikmat,” Ade Rowi berucap. Tak berseloroh dia. Meski tak tahu persis berapa jumlah “ayam” yang ada, Ade mengaku bisa mempertemukan pelanggan. Tinggal mengontak koordinator. “Soal tempat, kebanyakan orang menggunakan fasilitas saung di kampung seberang danau. Sewanya, Rp 150.000,00 semalam,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, “ayam-ayam kampung” yang ada di sana tak berlaku agresif. Dalam kesehariannya, mereka beraktivitas sebagaimana biasa. Malam pun, mereka tak kelayapan, agresif mencari pelanggan. “Nah, kalau ada yang pesan, barulah mereka keluar rumah. Kalau enggak, ya tinggal saja di rumah,” tuturnya.

Kebanyakan, katanya, “ayam-ayam kampung” merupakan produk perceraian di usia yang masih belia. ”Soal tarif, ya paling-paling Rp 50.000,00 sampai Rp 150.-000,00,” kata Ade Rowi. (Hazmirullah/”PR”)***

Sumber : Harian Pikiran Rakyat, Selasa, 25 April 2006


SITU Cileunca, Danau Buatan Zaman BELANDA

Danau atau situ cileunca itu dibangun sejak Zaman Belanda. Dulu situ cileunca merupakan kawasan milik pribadi seorang Belanda bernama “Kuhlan”. Pembangunan situ itu dilaksanakan selama 7 tahun (1919-1926)Pembangunan situ cileunca sekitar tahun 1929
menggerakan turbin pembangkit listrik plengan yang merupakan salah satu sumber listrik kota Bandung zaman kolonial,
selain itu debit air nya diuganakan sebagai cadangan sumber air bersih kota Bandung kala itu. Berkapasitas 9,89 Juta M3 Air. Untuk mencapai kapasitisa setinggi itu Bendungan Pulo dipertinggi pada tahun 1940 (Baca “Sejarah PLN Jawa Barat).

Setelah melewati kampung-kampung kecil… jalan yang naik turun lembah.. berkelok kelok.. semakin terlihat jelas luas nya danau, Situ Cileunca beCileunca dilihat dari Photo Satelit rada 45 km sebelah selatan Kota Bandung, tak jauh dari Kota Kecamatan Pangalengan. Genangan air seluas 180 hektare itu diapit dua desa, yakni Warnasari dan Pulosari. Sebenarnya, Situ Cileunca itu ada dua buah. Cileunca Satu memiliki luas 210 hektare dan ini, Situ Cileunca Dua, memiliki luas 180 hektare,” jika dilihat dari Photo satelit imagery milik Google Earth, bentuk nya emang tidak karuan… merupakan titik temu beberapa mata air yang diblok oleh sebuah bendungan yang sekarang diberi nama Dam Pulo.

Motor terus berjalan, kami melewati perkebunan teh Pasir malang, tempat dimana bapak ku dilahirkan… ditempat itu sewaktu masih bocah… aku bermain-main di sungai cilaki .. sementara bapak sibuk mengurusi kolam ikan peninggalan kakek, karena keterbatasan waktu, kami melawati saja tempat itu.. Insaya Allah suatu saat klo ada waktu aku mau menyempatkan diri melihat tanah leluhurku itu.

Begitu banyaknya peninggalan zaman kolonial… istri ku berkomentar “kenapa semua ini ngak dikembangkan”, sejenak kurenungkan komentar itu.. ada benarnya juga… betapa tidak kreatifnya kita.. sehingga ada orang mengatakan.. apakah kalian menyesal setelah kemerdakaan yang dengan susah payah diraih.. melihat kemdandekan kreatifitas negeri ini.. Whatever (Teuing Ah..).

Setelah melewati beberapa perkebunan teh rakyat, jembatan jembatan kecil melintasi danau dengan udara yang sejuk, sampai juga kami ke gerbang utama wisata “Situ Cileunca”, tidak banyak pengunjung waktu itu … mungkin karena jam sudah mepet menunju waktu sholah jum’at. Ada satu dua perahu yang tertambat di pinggir danau, kami lihat hanya ada satu perahu yang sedang beroperasi.

Cileunca.. danau penuh mitos.. dari dulu sudah beredar mitos penguasa danau itu.. nama nya Abah Suta… Konon katanya dia pernah bermusuhan dengan orang Garut… ada kepercayaan orang Garut dan keturunan jangan sekali-kali menyebrangi danau itu.. takut nantinya Mbah Suta marah… perahunya bakal ditenggelamkan (Padahal… kakek dari ibu orang garut juga.. so aku juga keturunan orang garut atuh… he..he..he…).

Kami sampai di ujung danau, terbentang Dam Pulo yang memberi kesan kokoh. Kami berhenti sesaat untuk melepas lelah, tak lupa photo2x seperti hal nya kebanyakan orang yang sedang piknik (ideal nya plus makan ditempat terbuka kail yee..). Di ujung danau itu terlihat rute perjalan yang talah kami lewati.. hmm.. lumayan jauh juga…


Kamis, 08 Januari 2009

Wajah PAngaLenGan TemPo Doeloe

nah Sekarang kita explore Perkebunan teh Malabar, perkebunan tertua di pangalengan, kemudian diikuti oleh perkebunan teh yang lainnya seperti Kertamanah, Pasir Malang, Poerbasari, Santosa, Talun dan Sedep.

Diprakarsai oleh oleh K.A.R Bosscha seorang sarjana teknik lulusan Universitas Delft di Belanda. Di danai oleh pamanya sendiri Edward Kerkhoven yang telah lebih dulu mengepalai perkebunan teh di daerah Assam India.

Tercatat sebelum perang dunia kedua, daerah Bandung Selatan merupakan penghasil komoditi penting dunia (Teh dan kina). Dari hasil perkebunan inilah seorang K.A.R Bosscha dapat menyumbang berbagai yayasan di Belanda, ikut mendanai ITB (Dulu Technologie Hogeschool), Societeit Concordia (Sekarang Gedung Merdeka di jalan Asia Afrika Bandung), Sekolah Luar Biasa Cicendo Bandung dan sebuah karya fenomenal Observaterium Peneropongan Bintang Boscha.

Ironis memang dengan keadaan sekarang, bisa anda lihat di perkebunan peninggalan orang Belanda itu. Sejak di nasionalisasi pada tahun 1950-an, saat ini Perkebunan teh Malabar dibawah koordniasa PTP Nusantara 8. Secara kasat mata tidak ada perubahan dan perkembangan yang signifikan. Jika dahulu Orang Belanda yang katanya “penjajah“, rajin menyumbang ke sana kemari, pengurus yang sekarang belum seperti itu, kesejahteraan karyawan tidak beranjak naik. Info terkahir dari paman saya sendiri seorang pensiunan pegawai teknik di sana, menerima uang pensiunan perbulanya tidak lebih dari 300 ribu :( . Asal pembaca tahu, produk Perkebunan Teh Malabar memiliki qualitas export, teh hitam yang terkenal di pasar luar negeri seperti Inggris dan Jepang, tentunya tidak murah. dan sampai sekarang belum pernah penulis menemukan produk Perkebunan teh Malabar di pasaran lokal.

De poort van theeonderneming Malabar (1943)

Pintu gerbang menunju pabrik teh Perkebunan Malabar, nampak ciri khas bangunan tradisional Sunda yang sampai sekarang keberadaannya masih terpelihara di kampung Malabar Pangalengan.

Het wegen van de thee-oogst na de ochtendpluk, Malabar (1930)

Kegiatan penimbangan (wegen) pemetik teh (thee-oogst) pada pemetikan teh pagi hari (ochtendpluk). sebelum teh tersebut dibawa ke pabrik untuk diolah.

Verzending van thee vóór de invoering der vrachtauto’s, thee-onderneming Malabar

Kurang lebih artinya “Pengiriman teh untuk dimasukan kedalam kendaraan angkut (mobil barang). Tidak jelas kendaraan apa yang dimaskud, kemungkinan teh tersebut dianggkut menggunakan kereta kuda ke Stasiun Banjaran, kemuadian dari sana dianggkut ke Bandung atau Jakarta menggunakan kereta api.

Theefabriek Tanara, Pengalengan (voor/before 1943)

Sebuah pabrik pengolahan teh antara Malabar dan Cibolang, bila anda berniat menuju kolam pemandian air panas Cibolang, anda akan melewati pabrik ini, ditempat inilah kakek bekerja sebagai staff, dan 3 orang anaknya yang menjadi pegawai teknik. Rekrutmen pegawai di perkebunan masih bersifat turun temurun.

Tanara- en Malabar theetuinen, hoogvlakte van Pengalengan (1949)

Administrateurswoning van de theeonderneming Malabar, Pengalengan (1952)

Rumah kediaman adminstratur Perkebunan Teh Malabar, tempat tinggal K.A.R Bossca pada saat menglola perkebunan. Tampak background nya adalah Gunung Nini tempat sang juragan perkebunan mengamati seluruh kegiatan perkebunan. Dari Gunung tersebut akan terlihat jelas seluruh lanscape Pangalengan, tentunya bila tidak turun kabut :) . Pemeliharaan rumah ini (Wisma Malabar) sekarang dipegang oleh PTP Nusantara 8, sayang sering digunakan kegiatan yang tidak bermoral seperti Uka-uka dan unji nyali.


Tji Bolang Tanara, Assamthee-onderneming, Malabar (1927)

NAh Foto Yang Ini Tempat kelahiaran saya (waas ih :)), Cibolang merupakan sebuah perkampungan kecil di kaki Gunung Wayang Windu, salah satu andalan objek wisata di Pangalengan karena disana terdapat kolam pemandian air panas.






Selasa, 06 Januari 2009

pemuda cibolang

ini dia pemuda harapan cibolang..wkwkw

mau jalan2 pake motor..olahraga..lompat2an dsni tempatnya hee....



Nah ini jalan raya di cibolang..sekarang udah bagus di hotmix..klo dulu parah bgt..buat kalian yag mau berwisata ke air panas cibolang jangan khawatir pasti nyaman dehh...

Senin, 05 Januari 2009

Kampung cibolang Di Pagi Hari


Kampung cibolang pangalengan di waktu Pagi hari....hmmmm sejuuuukkk..terlihat matahari muncul dari belakang gunung wayang windu...rasanya damai brooo....

Sabtu, 03 Januari 2009

Jalan - Jalan Di Malabar Pangalengan

Jumat, 02 Januari 2009

Permainan Anak-Anak Jadul


waktu kecil saya masih mengalami indahnya permainan-permainan tradisional (Sunda). Biasanya itu dilakukan disela-sela kesibukan 'bekerja' membantu orang tua atau pulang sekolah. Namanya juga anak-anak. Sambil 'menjalankan tugas' ngambil air dari mata air (Cilio : nama mata air di kampungku*), sempet-sempetnya diselingi dengan permainan-permainan yang melibatkan banyak anak, seperti ucing-ucingan, gatrik, ucing sumput (petak umpet*), dll. Belakangan, setelah dewasa, saya baru tahu bahwa permainan yang melibatkan banyak orang ternyata bermanfaat melatih manusia bersosialisasi.

Zaman sekarang, permainan-permainan untuk anak-anak cenderung mengarahkan anak untuk berperilaku individualistis, karena mereka dijejali permainan-permainan interaktif dengan komputer, dan tidak memerlukan teman untuk bermain. Di titik ini, kepekaan anak-anak untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya justru ditumpulkan.