Rabu, 14 Januari 2009

Foto dan cerita pangalengan tempo dulu

Wegenaanleg in Pengalengan, West-Java (voor/before 1943)

Kegiatan membuka jalan baru di Pangalengan, sepintas mirip di daerah cibiana, ciruntah atau di sekitar perkebunan Malabar. Menurut penuturan Kakek, pembukaaan jalan Banjaran Pangalengan tidak lepas dari ide K.A.R Bosscha untuk membuka access mengangkut komoditi hasil perkebunan di Bandung Selatan. Tapi tetap saja menggunakan tenaga penduduk pribumi, entah itu dengan cara kerja paksa, atau di beri upah sangat minim. Tapi pekerjaan mereka tidak sia-sia, buktinya sampai sekarang jalan tersebut sangat bermanfaat.

Gezicht op de Goenoeng Tiloe, Malabar gebergte, West-Java (1917)

Gezith artinya panorama, gebergte berarti pegunungan, orang Pangalengan tentunya tahu, ya.. Gunung Tilu. Dalam photo tampak sisi sebelah utara dari gunung tilu, mungkin photo ini di snapshot di daerah Cikalong. Masih kelihatan alami, tidak seperti sekarang yang sudah mulai gundul, sejak ada Kredit Usaha Tani (KUT) orang-orang dengan bebas membuka lahan seenaknya untuk menanam modal dari kredit itu. Karena kurang profesioanl, modalnya habis dan hasilnya nol besar.

Disebut Gunung Tilu karena terdapat tiga puncak gunung, paling tinggi yang tengah, bila diibaratkan yang paling tinggi dan besar adalah induknya :) .

Hollands vee in de weide bij Pengalengan, Preanger (1936)

Baru tahu bahwa kata sapi itu berasal dari Bahasa Belanda, Vee :) mengapa ?, karena dalam bahasa melayu tidak ada kata sapi, yang ada hanya kerbau dan lembu. Weide kurang lebih artinya padang rumput. Tampak seorang penggembala bule totok wong londo, dengan latar belakang Gunung Tilu. Sapi perah merupakan salah satu sektor perekonomian di Pangalengan.

School voor kinderen van arbeiders van Theeonderneming Malabar, West-Java

Sekolah rakyat pertama yang ada di Pangalengan, sekarang namanya SD Malabar 2, sekolah tempat ibu saya menuntut ilmu. Sebuah bangunan panggung sederhana terbuat dari kayu dengan dinding bilik bambu, sampai sekarang masih terpelihara dengan baik, letaknya tidak jauh dari makam K.A.R Bosscha. Tampak anak-anak membawa sabak, sebuah lempengan batu atau kayu yang ditulisi kapur, “enak kalau anak zaman sekarang, sudah ada buku tulis” tutur ibu.

Schoolbus met leerlingen van de Plantersschoolvereniging “Pengalengan” te Bandoeng (1900-1940)

Bisa dipastikan mobilnya jenis oplet, mirip oplet si doel (kakek pernah memiliki mobil seperti ini, sayang terbakar). Plantersschoolvereniging (Sekolah Yayasan perkebunan), menurut situs scchoolbank.nl, sekolah ini letaknya di Pintu, sebuah kawasan sebelum memasuki Perkebunan Malabar

1 komentar:

omdien mengatakan...

peace...